Bongpay Granit Modern Tulungagung-Marmer Tulungagung


BONGPAY GRANIT TULUNGAGUNG-MARMER TULUNGAGUNG

Pada gambar dibawah terdapat ukiran malaikat yang berada di smping kanan kiri. Bongpay Granit Tulungagung memiliki Ukiran tersebut sangatlah detail. Jika anda ingin menambah foto almarhum juga bisa. Kami memiliki team setting tulisan dan gambar yang sangat handal. Dijamin anda akan puas jika memesan bongpay untuk keluarga anda pada Bintang Antik Sejahtera. Bintang Antik Sejahtera merupakan usaha dagang dalam produksi kerajinan batu alam. Kami sangat handal dalam pengerjaan batu alam apapun. Untuk lain bahan kami juga melayani, seperti dari bahan marme, granit impala, batu kali dll. Gambar diatas merupakan bukti kalau pengrajin kami handal dalam bidang ukir. Hasilnya sangat detail. Gambar serumit apapun pengrajin kami bisa mengerjakannya. Selain bongpay kami juga memproduksi kijing marmer hitam dengan ukuran jumbo. Biasanya makam tersebut berukuran lebih dari 2m. anda bisa lihat pada gambar di bawah ini. Makam box granit ini dilengkapi dengan vas air 3bj. dan ada fotonya yang bisa di buka dan di tutup. Kijing marmer hitam ini berukuran cukup besar. Namun, untuk harga kami menjual dengan harga sesuai kwalitas yang kami berikan. Karena kami membuat dengan batu granit asli, bukan batu granit palsu. Kami selalu menjual produk- produk batu asli. Untuk cara pemesanannya sangat mudah, langsung klik link nomor yang sudah tertera di bagian bawah ini. Pelayanan kami keseluruh wilayah Indonesia dengan packing standart keamanan, sehingga anda akan menerima barang pesanan dengan keadaan baik. Jl. Kanigoro Gg 4 No. 35, Blumbang, Ds. Campurdarat, Kec.

Meja Perjamuan Bongpay Granit Tulungagung
Meja Perjamuan Bongpay Granit Tulungagung

Pabrik Makam Tulungagung | Bongpay Granit Tulungagung - Bongpay adalah penanda sebuah makam bagi warga Tionghoa. Biasanya bongpay memiliki ukuran yang besar. Bongpay sendiri biasanya terbuat dari batu granit berwarna hitam. Seperti yang di produksi oleh Bintang Antik Sejahtera. Bongpay yang di produksi memiliki kwalitas yang terbaik. Bahan yang dipakai juga bahan batu granit hitam. Sehingga batu tesebut tidak mudah pecah. Bongpay Granit Tulungagung yang di produksi oleh kami sangat memiliki kwalitas yang sangat baik. Kebanyakan customer dari kami berada di luar kota dan luar pulau. Jadi bahan yang kami gunakan sangatlah bagus. Contoh bongpay yang telah kami kerjakan pada gambar di bawah ini. Bongpay Granit Tulungagung pada gambar diatas, merupakan salah satu contoh produksi kami sendiri. Pengerjaan bongpay tersebut dikerjakan oleh pengrajin batu, yang sudah memiliki pengalaman puluhan tahun. Bongpay tersebut sesuai dengan keinginan customer. Bongpay granit Tulungagung memiliki letter nama yang sangat detail dan pengerjaannya sangat rapi. Model lain dari Bongpay granit bisa seperti gambar diatas.

Bongpay Granit
Bongpay Granit

Hal tersebut biasa disebut fengsui yaitu ilmu topografi kuno dari Tiongkok yang memercayai bagaimana manusia dan surga (astronomi), serta bumi (geografi) dapat hidup dalam harmoni untuk membantu memperbaiki kehidupan dengan menerima Qi positif. Qi terdapat di alam sebagai energi yang tidak terlihat. Qi dialirkan oleh angin dan berhenti ketika bertemu dengan air. Qi baik, disebut juga dengan istilah napas kosmik naga. Jenis Qi ini dipercaya sebagai pembawa rezeki dan nasib baik. Namun, ada pula Qi buruk yang disebut Sha Qi, yang dipercaya sebagai pembawa nasib buruk. “Saat ini banyak yang tidak paham itu, padahal ada ukuran-ukuran, ada meterannya itu kan ada yang berwarna hitam ada yang merah. Harus di warna merah itu jatuhnya. Kurang dari 20 persen yang paham itu, tetapi saya mencoba mengingatkan,” ucapnya. Jika ukuran tersebut tidak tetap dipercaya dapat memberi pengaruh yang buruk pada keluarga yang masih hidup. Contoh pada panjang 20 sentimeter, berbunyi fu-kui atau kaya raya, bukan yang sudah mati (dalam makam) akan menjadi kaya raya. Tetapi anak cucunya yang masih hidup akan terpengaruh jadi kaya raya, atau lebih kaya lagi, angka yang baik ini menunjukan angka merah. Lalu contoh lainnya yang menunjukkan hal yang buruk menunjukan warna hitam, contohnya pada angka 7 she chie atau Keturunan mati satu persatu sampai tidak punya keturunan. Alasan lain banyak warga keturunan Tionghoa yang tidak memakamkan lantaran biaya yang dibutuhkan cukup tinggi, termasuk perawatannya. Akhirnya sejumlah makam tidak terawat, lantaran ditinggal keluarganya. Hingga memilih membakar jasad orang yang meninggal dan melarung di laut lepas.

Matahari belum terlalu tinggi, Minggu (7/4) pagi itu, tetapi puluhan pemuda-pemudi keturunan Tionghoa dengan mengenakan baju putih nampak sibuk dengan berbagai peralatan kebersihan dan alat membersihkan semak belukar, sabit, cangkul dan peralatan lainnya. Puluhan, bahkan ratusan batu nisan warga keturunan Tionghoa berjejer, ada yang berada di pinggir jalan yang semakin terasa sempit dengan penuhnya pemakaman ada yang berada sedikit di atas yang dapat dijangkau melewati jalan setapak dan tangga-tangga kecil yang disiapkan. Beberapa nisan dengan ukuran yang besar khas warga Tionghoa dengan bongpay (papan nisan) bertuliskan nama mendiang dan informasi lain tentang mendiang. Beberapa nampak ada persembahan di meja makam. Namun, kondisi tersebut tidak terjadi di seluruh makam. Tidak seluruhnya bersih, bukan persembahan untuk mendiang, tetapi semak belukar, bahkan pepohonan yang memenuhi sejumlah makam. Bahkan ada yang mulai rusak, yang seakan tidak ada sanak keluarga yang merawatnya lagi. Hari itu memang tidak seperti hari-hari biasa di pemakaman Gunung Sempu, Kasihan, Bantul.

BONGPAY GRANIT MODERN

Itulah yang kemudian mendasari penggunaan kertas perak/kertas kuning sebagai penanda diatas kubur, yang kemudian dijadikan tradisi setiap tahunnya dalam memperingati Cheng Beng. Oleh karenanya setiap ziarah kubur biasanya warga keturunan Tionghoa membakar gincua dan kimcua. “Kami melaksakan Cheng Beng ini dengan membersihkan makam yang tidak terawat dan mengirim doa. Cheng Beng ini kan intinya sebagai penghormatan pada leluhur. Setidaknya 20-an makam yang tidak terawat pagi itu dibersihkan oleh mereka dengan peralatan yang ada, rerumputan mulai dicabuti. Setidaknya 25 orang menyelesaikan pembersihan makam itu selama tiga jam. Tidak lupa satu persatu mulai menaburkan bunga di pemakaman yang mulai tidak terawat. Doa terbaik dipanjatkan untuk mendoakan. Pelaksana pemakaman di Gunung Sempu, Pariman mengatakan saat ini tidak banyak lagi yang memahami aturan-aturan tentang pemakaman. Pengalaman dari 1990-an, ia mulai belajar tentang fengsui dan hong sui, untuk menentukan ukuran setiap makam. Tidak hanya saat masih hidup warga keturunan Tionghoa juga mempercayai perhitungan-perhitungan tertentu yang dipercaya dapat memberi berkah tersendiri.

Sedikit mengingatkan kembali bahwa Njoo Kie Siong dan Njoo Swie Lian adalah pengusaha kayu ternama di Karesidenan Tulungagung. Bisa jadi lewat hasil kerja kerasnya mereka membangun rumah tersebut. Ahli berpendapat bahwa Rumah Kapten Cina Madiun ini berlanggam Victorian yang tampak lebih cantik dan memberi kesan modern dengan pilar besi. Namun ada pula yang berpendapat bahwa rumah tersebut berlanggam Indische Emipre. Kedua langgam tersebut popular abad ke-19, meski demikian bukan berarti pembangunanya dilakukan pada abad tersebut. Besar kemungkinan Rumah Kapten Cina dibangun awal abad ke-20 dengan dipengaruhi gaya abad ke-19. Hingga tahun 2012 rumah ini masih menjadi milik keluarga Njoo namun setelah itu telah berpindah tangan. Pada tahun 2017, Pemerintah Kota Madiun melalui Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga mengadakan pendaftaran bangunan-bangunan bersejarah di Kota Madiun yang nantinya akan ditetapkan menjadi cagar budaya. Ada 21 (dua puluh satu)obyek yang didaftarkan dan salah satunya adalah Rumah Kapten China. Diharapkan selanjutnya Rumah Kapten Cina ini bisa menjadi salah satu tujuan wisata sejarah di Kota Madiun. Handinoto, 1999. Lingkungan “Pecinan” Dalam Tata Ruang Kota Di Jawa Pada Masa Kolonial. Dimensi Teknik Sipil Vol.

Lewat jalur ini kayu-kayu yang sudah dalam bentuk balok kemudian diangkut kembali untuk dipasarkan. Pada Jaman Jepang jalur ini sempat dipanjangkan sampai kepada abbatoir atau rumah jagal. Fungsinya bukan untuk mengankut kayu lagi melainkan untuk mengangkuti daging-daging dari rumah potong tersebut. Njoo Swie Lian menjabat sebagai opsir hingga akhir hayatnya. Ia meninggal di usia 55 tahun pada 17 Februari 1930 dan dimakamkan di Bongpay Manguharjo (Het Nieuws van Den Dag, 24 Februari 1930). Ada kabar menyebutkan bahwa makam Njoo Swie Lian sudah tergusur oleh proyek tangkis sungai Tulungagung. Upacara pemakamannya sempat diabadikan dalam bentuk gambar bergerak. Bukti tersebut sampai sekarang menjadi satu-satunya dokumentasi tempo dulu Madiun dalam bentuk video. Setelah Njoo Swie Lian meninggal, Pemerintah Hindia-Belanda di Madiun sepertinya tidak lagi menunjuk orang tionghoa di Madiun untuk menjadi Opsir. Njoo Swie Lian bisa dikatakan sebagai Kapten China Madiun yang terakhir. Beberapa anak Njoo Swie Lian diketahui sempat menikah dengan sesama tionghoa dari kelas atas.




APRELLIA DEWI
(WA) 085655553096 – 081235287116
Email : bastamarmer@gmail.com
Jl. Kanigoro NO. 40A Ds. Campurjanggrang Kec. Campurdarat Kab. Tulungagung Jawa Timur